NUNUKAN, infoSTI – Proyek perbaikan jembatan Rurumdo di wilayah Krayan, yang telah dianggarkan Pemkab Nunukan dengan nilai sekitar Rp 1 miliar batal dikerjakan.
‘’Pemda sudah mengalokasikan anggaran Rp 1 miliar untuk Jembatan Rurumdo tahun ini. Tapi ternyata jembatan itu bukan domain Pemkab, tapi domainnya Provinsi,’’ ujar Anggota DRPD Nunukan, Ryan Antoni, menyampaikan salah satu hasil resesnya, Jumat (7/11/2025).
Dengan status tersebut, tentu saja Pemda Nunukan tak bisa menggelontorkan anggaran untuk perbaikan jembatan dimaksud, karena akan terjadi over lap kewenangan.
Dijelaskan Rian, Jembatan Rurumdo, memiliki peran sangat vital di wilayah Krayan.
Jembatan tersebut menghubungkan 11 Desa dengan perkampungan lain, dan menjadi urat nadi perekonomian masyarakat perbatasan RI – Malaysia.
‘’Jadi dengan berat hati, saya sampaikan ke masyarakat kalau perbaikan jembatan Rurumdo batal. Bukan karena Pemda tidak memberikan anggaran, tapi lebih pada kewenangan. Bagaimanapun kita tak boleh melabrak aturan,’’ imbuhnya.
Dalam penjaringan aspirasi yang dilakukan Ryan di Buduk Kubul, salah satu wilayah paling terisolir di Krayan, permintaan masyarakat masih sama dari tahun ke tahun, yaitu perbaikan jalan dan jembatan.
Di wilayah Krayan, jalan jalan yang dilalui memang masih terbagi dalam beberapa kategori, antara kewenangan Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, maupun kewenangan Pemerintah Pusat, seperti jalan penghubung Krayan menuju Malinau.
Sampai hari ini, masih banyak masyarakat melakukan perbaikan jembatan secara swadaya dengan kayu seadanya yang tentunya hanya bertahan sebentar.
Pada musim penghujan seperti saat ini, jembatan swadaya banyak yang patah, jalanan menjelma lumpur dan menyajikan pemandangan miris, dimana banyak kendaraan terjebak lumpur berhari hari, sehingga berimbas pada pengiriman bahan pokok ke daerah pedesaan.
‘’Kalau reses, permintaan masyarakat tidak ada yang lain. Kalau gak jalan ya jembatan. Karena memang itu yang utama,’’ tegasnya.
Ryan juga sedang mengawasi proyek peningkatan jalan di wilayah Kurid. Pemkab Nunukan juga telah menganggarkan Rp 800 juta tahun ini.
Wilayah Kurid, kata Ryan, merupakan daerah pelosok yang selama ini menjadi daerah penghasil padi organic adan yang paling bagus dan selalu surplus.
Kurid, juga selalu menjadi daerah yang dipilih sebagai wilayah percontohan pertanian organik di Krayan.
‘’Potensi wisata dan pangannya sangat tinggi. Masyarakat meminta perbaikan jalan agar mereka mudah membawa keluar hasil panen mereka. Puji Tuhan sedang dikerjakan meski baru peningkatan jalannya. Kita pelan pelan,’’ kata Ryan lagi.
Sampai hari ini, jalanan Krayan masih belum layak. Pemandangan petani yang kesulitan membawa keluar hasil panen, hingga masyarakat menandu orang sakit mendaki gunung melintasi jalan terjal yang dikepung jurang kanan kiri masih selalu terjadi.
‘’Memang tidak mudah mengatasi persoalan Krayan. Tapi bukan tidak mungkin,’’ kata dia.







