NUNUKAN, infoSTI – Masyarakat di Jalan Pangkalan Haji Muhtar, Nunukan Timur, mengeluhkan lesunya ekonomi di perbatasan RI – Malaysia, yang berimbas pada daya beli masyarakat.
Keluhan tersebut, disampaikan dalam penjaringan aspirasi yang dilakukan Anggota DPRD Nunukan, Adama, beberapa waktu lalu.
‘’Masyarakat kita sekarang tidak minta bangun ini, bangun itu. Tapi mengeluh perekonomian lesu, dan belanjanya minus,’’ ujar Adama, Kamis (6/11/2025).
Saat ini, progress pembangunan fisik dirasa terus berjalan dengan banyaknya proyek pengaspalan dan pembuatan jembatan jeramba oleh Pemkab Nunukan.
Hanya saja, masyarakat mengeluhkan ekonomi mereka dan berharap ada solusi bagi mereka untuk sekedar membuat dapur tetap ngebul.
‘’Memang harus diakui, saat ini produksi andalan masyarakat yaitu rumput laut, belum seperti dulu. Katanya ada kenaikan harga sampai Rp 15.000/Kg tapi kalau saya tanya ke pedagang tidak ada kenaikan,’’ kata Adama lagi.
Keluhan juga disuarakan oleh para buruh pengikat bibit rumput laut (Pabettang). Mereka meminta solusi agar upah mereka naik dari angka Rp 8000/tali.
Adama mengaku bingung menjawab keluhan mereka. Ia juga mengamini, kelesuan ekonomi menjadi penyebab penurunan daya beli, yang berdampak pada kesulitan memenuhi kebutuhan pokok serta meningkatkan ketergantungan pada utang.
Selain itu, naiknya nilai tukar ringgit, menambah panjang masalah yang perlu segera disikapi serius oleh Pemda Nunukan.
Saat ini, nilai kurs Ringgit Malaysia, ada di angka Rp 3900/RM 1. Sementara banyak kebutuhan masyarakat yang merupakan produk Malaysia.
‘’Ini masalah yang paling sulit kita jawab. Kita minta masyarakat sabar, kita DPRD Nunukan akan mencoba mencari solusi untuk peningkatan ekonomi dan ada stimulan untuk memudahkan usaha kecil bagi mereka,’’ kata dia.







