oleh

Cerita Keracunan MBG di Pulau Sebatik, Guru Sempat Cicip Sayur Hingga Sulitnya Mencari Mobil Untuk Membawa Anak Anak ke Puskesmas

NUNUKAN, infoSTI – Kasus dugaan keracunan menu MBG di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, Selasa (30/9/2025) sore, menyisakan ketakutan dan trauma bagi anak dan orang tua murid.

Banyak wali murid langsung mengirim pesan teks ke guru, berpesan agar anaknya tidak usah diberi menu MBG lagi.

‘’Sekarang anak anak takut dan trauma. Orang tua mereka banyak berkirim chat dan menelfon, jangan lagi kasih anaknya MBG,’’ ujar Kepala Sekolah SDN 04 Sei Limau, Sittiara Razak, dihubungi, Rabu (1/10/2025).

Sittiara menuturkan, Program MBG sebenarnya cukup membantu murid murid sekolah di SDN 04 Sei Limau yang kebanyakan tak membawa bekal ke sekolah.

Kesibukan orang tua anak anak di perbatasan RI – Malaysia yang mayoritas petani dan pekebun kelapa sawit, membuat orang tua mereka harus berangkat pagi buta ke perkebunan dan pulang saat maghrib.

‘’Awalnya semua gembira sekali anak anak dapat MBG. Saat mobil pembawa makanan tiba mereka melompat lompat senang, teriak hore ada makanan datang. Sekarang, tidak bisa sudah banyak cerita,’’ tuturnya.

Di wilayah Kecamatan Sebatik Tengah, terdapat lebih 80 orang yang diduga keracunan menu MBG.

Mereka berasal dari murid murid SDN 04, SDN 05, SDN 02, SDN 03, MI Darul Furqon, PAUD Ar Rahman, dan Posyandu.

‘’Ada anak murid kami yang membawa pulang menu MBG ke rumah, dimakan neneknya, akhirnya keracunan. Ada yang dari Posyandu juga, makanya ada Balita ikut keracunan,’’ imbuhnya.

Di SDN 04 Sei Limau, terdapat sekitar 40 anak yang diduga keracunan menu MBG. Mereka mengalami gejala muntaber, dan sebagian hanya muntah.

Penanganan juga cepat dilakukan, sehingga anak anak yang harus dirujuk ke Puskesmas hanya sekitar 10 anak.

‘’jadi semalam Puskesmas Sei Taiwan, Puskesmas Aji Kuning penuh pasien anak yang diduga keracunan. Ada yang dilarikan ke Puskesmas Sei Nyamuk di Sebatik Timur,’’ katanya.

Sebenarnya, saat menu MBG datang, Sittiara sempat meminta izin murid muridnya untuk lebih dulu mencicipi menu yang baru diterima sekolahnya dua kali tersebut.

Pada hari kedua, menu yang disajikan adalah telur rebus yang dibumbui sambal, tahu goreng, sayur tumis wortel campur kol kubis, dan buah semangka.

‘’Saya sempat coba sayurnya dan saya persilahkan anak anak makan karena saya rasa aman. Bahkan saya makan sayur jatah anak saya di kelas 4 juga karena dia tidak makan sayur. Saya tidak apa apa,’’ tuturnya.

Pihak sekolah, mempersilahkan anak anak yang sempat mengalami muntaber untuk istirahat dulu di rumah, dan tidak memaksakan diri pergi sekolah untuk sementara.

Paniknya guru MI Darul Furqon karena tak ada mobil

Sementara itu, kepanikan sempat terjadi di MI Darul Furqon. Madrasah di tapal batas Negara ini jauh dari jalan utama dan berada di tengah perkebunan kelapa sawit.

Madrasah ini, memiliki asrama sebagai tempat tinggal anak anak TKI Malaysia.

‘’Baru saja saya sampai rumah sekitar pukul 15.00 wita, sepulang mengajar, guru asrama menelfon anak anak asrama berak berak dan muntah. Saya pakai balik pakaian saya dan segera menuju sekolah lagi,’’ kata Kepsek MI Darul Furqon, Adnan Lolo, saat dihubungi.

Terdapat 11 murid MI Darul Furqon yang mengalami gejala muntaber.

Lokasi sekolah yang jauh, mengakibatkan pihak sekolah kebingungan karena harus mencari mobil untuk membawa anak anak ke Puskesmas secara mendadak.

Langkah awal, sekolah mencoba menghubungi Komandan Pos Satgas Pamtas RI – Malaysia di Pos Bukit Keramat, meminta obat untuk anak anak yang muntaber.

‘’Kebetulan obatnya kosong. Kami pusing juga mencari mobil untuk membawa anak kami ke Puskesmas. Sudah coba telfon orang tua murid yang ada mobil, ternyata sedang memuat sawit,’’ kata Adnan.

Beberapa nomor pemilik kendaraan juga dihubungi, namun semua sedang terpakai dan jauh dari lokasi sekolah.

‘’Akhirnya, ada pihak dapur yang menanyakan kondisi anak murid kami. Mungkin sebelumnya sudah tahu beberapa murid sekolah lain diduga keracunan MBG. Jadi kami dijemput mobil pihak SPPG. Barulah kami rasa lega akhirnya ada mobil,’’ akunya.

Pihak sekolah juga menerima banyak atensi orang tua murid agar tidak memberikan anaknya menu MBG.

‘’Banyak orang tua murid mengirim pesan atau telfon. Biarkan anak mereka dimasakkan saja, bawa bekal dari rumah, tidak usah dibagi MBG,’’ lanjut Adnan.

MI Darul Furqon, mengambil langkah meliburkan sekolah, agar anak anak murid mereka bisa tenang dan memulihkan diri dulu dari keracunan yang dialami.

‘’Yang kami bingung ini kalau anak anaknya tak dibolehkan makan MBG, bagaimana itu nanti. Apakah diambil saja buat makan guru atau bagaimana,’’ kata Adnan.

Untuk diketahui, menu MBG di Kecamatan Sebatik Tengah disiapkan oleh Yayasan Bina Pendidikan Yatim, dengan penanggung jawab Eka Riskayadi, beralamat di Jalan H.B. Rahim, RT 8, Desa Sei Pancang.

SPPG ini menyediakan 992 menu untuk PAUD dan SD di Sebatik Tengah.

Bupati Nunukan, Kalimantan Utara, Irwan Sabri juga langsung menyeberang ke Pulau Sebatik, melihat kondisi anak anak yang diduga keracunan MBG pada Selasa (30/9/2025) malam.

Ia memastikan Pemda Nunukan akan terus memantau kondisi para korban.

Ia juga sudah meminta Dinas Kesehatan, mengambil sample menu MBG untuk tes laboratorium.

“Dan SPPG yang baru beroperasi dua hari di Kecamatan Sebatik Tengah, pasti kita non aktifkan dulu sampai ada kejelasan apakah menu yang disajikan beracun atau ada faktor lainnya yang mengakibatkan puluhan anak keracunan,” ujar Irwan Sabri.