Menu ✖

Mode Gelap
Bawa Masuk Liquid Mengandung Etomidate dari Malaysia, Seorang Warga Sebatik Dicokok Polisi Kejari Nunukan Sidangkan Kasus Penjualan 131 Tabung Gas LPG Ilegal Asal Malaysia Puluhan Tahun Bersengketa Akibat Lahan Adat Digarap Perusahaan Kelapa Sawit, 4 Desa di Pedalaman Nunukan Sepakat Berdamai Ungkap Pencurian Dua Unit Sepeda Motor di Nunukan, Polisi Amankan Pelaku dan Penadah Buka SPAB di SMPN 1 Nunukan, Pemkab Ingin Bangun Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini Tak Mau Dipulangkan Ke Kampung Halaman, Eks TKI di Nunukan Mengamuk dan Menebas Tangan Temannya Hingga Putus

Advertorial

Buka SPAB di SMPN 1 Nunukan, Pemkab Ingin Bangun Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini

badge-check


					Simulasi SPAB di SMPN I Nunukan. Edukasi kesiapsiagaan bencana sejak dini. Dok.Prokopim Nunukan. Perbesar

Simulasi SPAB di SMPN I Nunukan. Edukasi kesiapsiagaan bencana sejak dini. Dok.Prokopim Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI – Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Nunukan Sirajudin, membuka kegiatan Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMP Negeri 1 Nunukan, Rabu (21/10/2026).

Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) merupakan program untuk membangun kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana sehingga risiko terhadap peserta didik, guru, tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana pendidikan dapat dikurangi.

Dengan demikian, simulasi SPAB di SMP Negeri 1 Nunukan menjadi langkah penting untuk membiasakan warga sekolah bertindak cepat, tenang, dan tepat ketika bencana terjadi.

Sirajudin, menyampaikan, bencana dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan sehingga kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah.

Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik dan tenaga kependidikan.

Sejalan dengan Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana, SMP Negeri 1 Nunukan, diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya di Kabupaten Nunukan dalam membangun budaya sadar bencana.

‘’Oleh karena itu, simulasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk latihan nyata untuk meningkatkan kemampuan warga sekolah dalam menghadapi situasi darurat serta melindungi keselamatan jiwa,’’ ujarnya.

Untuk mewujudkan budaya sadar bencana, sekolah perlu memiliki tim siaga bencana, jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, serta Standard Operating  Procedure (SOP) yang dipahami oleh seluruh warga sekolah.

Selain itu, para guru memiliki peran penting sebagai pelindung pertama bagi peserta didik ketika bencana terjadi. Guru dan tenaga kependidikan, diharapkan mampu menjaga ketenangan, memberikan arahan yang tepat, serta memastikan proses evakuasi berlangsung dengan tertib dan aman.

“Tangguh bukan berarti tidak takut. Tangguh adalah tetap bertindak dengan benar meskipun kita takut,” ucap Sirajudin.

SPAB memberikan edukasi kepada para peserta didik, agar senantiasa memahami langkah-langkah penyelamatan diri.

Saat terjadi gempa bumi, anak anak sudah memahami langkah awal perlindungan dengan melindungi kepala, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul setelah kondisi memungkinkan.

‘’Jadi nanti silahkan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama simulasi di lingkungan keluarga, termasuk menyusun rencana evakuasi bersama orang tua di rumah,’’ kata dia.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Nunukan Rustiningsih, mengatakan,  Tahun 2026, kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim, menjadi salah satu indikator tambahan dalam Rapor Pendidikan yang turut memengaruhi penilaian setiap satuan pendidikan.

Adapun simulasi yang dilakukan, merupakan tahap puncak dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya diawali dengan sosialisasi selama tiga hari dan melibatkan sebanyak 853 siswa.

‘’Kami berharap kolaborasi antara instansi terkait dapat terus terjalin untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 1 Nunukan,” katanya.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial