NUNUKAN, infoSTI – Kapal regular rute Tawau, Malaysia menuju Nunukan dan Kota Tarakan, Kalimantan Utara, mengalami kenaikan harga tiket.
Pengumuman kenaikan tarif, diumumkan oleh Fokasjadi Sdn.Bhd, dalam surat resmi yang dikeluarkan 9 Maret 2026, dan ditandatangani oleh Datuk Seri Panglima Elbert Lim Yu Ming JP, Pengarah Urusan Kumpulan di Tawau, Sabah, Malaysia.
Untuk diketahui, Fokasjadi Sdn Bhd, adalah perusahaan (Sdn Bhd/Sendirian Berhad) Malaysia yang berbasis di Tawau, Sabah, dan bertindak sebagai agen konsesi tunggal yang berwenang mengelola penjualan tiket di Terminal Feri Penumpang (TFT) Tawau, khususnya rute internasional seperti Tawau-Nunukan.
Perusahaan ini mengatur harga tiket, terminal fee, dan bea angkut penumpang.
Dalam surat dimaksud, kenaikan tarif rute Tawau – Nunukan, sebesar RM 150 untuk dewasa, setara Rp 645.000 dan RM 90 untuk anak anak, atau sekitar Rp 387.000.
Sementara untuk rute Tawau – Tarakan, harga tiket RM 250 untuk dewasa atau setara Rp 1.075.000 dan RM 160 untuk anak anak, atau setara Rp 688.000.
Surat yang diterima para pengusaha kapal penyeberangan di Kabupaten Nunukan inipun memberikan maklumat bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh naiknya harga minyak dunia.
Pemberlakuan tariff, bersifat sementara, sampai harga minyak dunia turun.
Salah satu pengusaha kapal penyeberangan Nunukan – Tawau, Andi Darwin mengakui, kenaikan tersebut menjadi dilemma bagi pengusaha Nunukan.
‘’Ringgit Malaysia itu sekarang sudah naik menjadi Rp 4300 per 1 Ringgitnya. Kenaikan tarif juga pengaruh ke penumpang. Adalah sekitar lima persen berkurangnya,’’ ujarnya, dikonfirmasi Rabu (11/3/2026).
Andi Darwin yang memiliki tiga kapal penyeberangan Nunukan – Tawau, masing masing, Labuhan Ekspress, Purnama Ekspress dan Francis Ekspress ini juga mengatakan kenaikan yang terjadi, akan segera disikapi dengan kenaikan tarif untuk rute Nunukan – Tawau.
Pasalnya, selama ini kapal kapal tujuan Malaysia yang beroperasi mengisi BBM di Malaysia.
‘’Kita jalan rugi kalau tidak naikkan tiket. Ini teman teman mau rapat untuk menentukan berapa kenaikan harga tiket. Saat ini kita jual tiket masih sekitar Rp 350.000 ke Tawau. Kita mau rapatkan berapa naiknya,’’ imbuhnya.
Darwin menuturkan, para pengusaha kapal penyeberangan Nunukan – Tawau kesulitan membeli BBM di Nunukan.
Terlalu banyak aturan dan regulasi, mulai dari nihilnya Terminal Khusus (Tersus) bongkar muat BBM, tidak adanya bunker penyimpanan BBM dan seabrek sarat lain yang sulit dipenuhi para pengusaha kapal.
Sementara di Malaysia, mereka tinggal membeli BBM di pom bensin, tanpa banyak aturan dan batasan.
‘’Jadi kami selalu membeli dexlite di SPBU Malaysia sana. Biasanya kita beli tujuh ton untuk tujuh kali pulang pergi. Dan sekarang harga BBM naik seliternya sekitar RM 6 atau Rp 25.800 dari biasanya sekitar Rp 20.000. Kalau kita tidak ikut naik, jalan rugi kita,’’ jelasnya.
Darwin meminta Pemerintah melihat kesulitan pengusaha kapal penyeberangan Nunukan – Tawau, sebagai salah satu PR pemerintah.
Ia menegaskan bahwa pelayaran Nunukan – Tawau juga menjadi salah satu urat nadi perkenomian Nunukan.
‘’Kalau bisa pembelian BBM untuk kapal penyeberangan Nunukan – Tawau tidak dibuat ribet. Kami bukan pengusaha kilang minyak yang membeli dengan partai besar sehingga disaratkan punya bunker BBM, punya Tersus. Semoga ini jadi perhatian Pemerintah,’’ kata dia.











