NUNUKAN, infoSTI – Ucapan syukur dan terima kasih meluncur deras dari masyarakat Satuan Pemukiman (SP) 1 Desa Sanur, Kecamatan Tulin Onsoi, Nunukan, Kalimantan Utara, kepada para prajurit Satgas Pamtas RI – Malaysia, Yonkav 13/Satya Lembuswana.
Berkat kerja keras para TNI, Gereja Jemaat Eben Haezer Nunukan, yang selama ini diimpikan warga, akhirnya bisa terbangun.
Camat Tulin Onsoi, Kristoforus Belake, mewakili masyarakat menyatakan betapa luar biasanya kinerja TNI yang mau lembur siang malam untuk memberikan tempat ibadah bagi warga Tana Toraja, di pedalaman Nunukan.
‘’Selama ini mereka mengajukan permohonan tanah hibah ke Pemerintah Desa. Tanah ada, tinggal membangunnya. Datang Bapak Bapak TNI, dikebut pembangunannya. Mereka roling siang malam,’’ ujar Kristo, dihubungi Kamis (19/2/2026).
Kristo dan warganya mengaku cukup kaget dengan begitu cepatnya gereja Eben Haizer dibangun.
Jika menggunakan jasa tukang, kata dia, pembangunan gereja bisa memakan waktu hingga setengah tahun.
Namun para TNI yang bertugas menjaga perbatasan negara ini, meski membangun dari nol, hanya butuh waktu tidak sampai dua bulan.
‘’Kami sangat berterima kasih atas kepedulian Bapak TNI kita. Kami melihat langsung bagaimana manunggal TNI bersama rakyat yang memperlihatkan sebuah toleransi justru memperkuat jalinan sosial dan rasa kasih sayang kami semua,’’ ujarnya lagi.
Pembangunan dikebut
Danki Pos Satgas Pamtas RI – Malaysia di Tembalang, Kapten Kav Vicky Reswandy menuturkan, pembangunan melibatkan prajurit dari 4 Pos perbatasan.
Mereka melakukan kerja bhakti siang malam, dengan target pembangunan gereja bisa rampung sebelum Ramadhan.
‘’Kita tugaskan masing masing pos tiga prajurit. Kita roling siang malam, dan kita bersyukur kita mampu menyelesaikan sesuai batas waktu yang kita targetkan,’’ ujarnya melalui sambungan telfon.
Aksi TNI juga langsung mendapat dukungan masyarakat yang secara sukarela menyumbangkan tenaganya untuk sama sama membangun gereja.
‘’Bahkan ada guru SMP disini ada yang mengajukan libur mengajar, untuk ikut membangun gereja,’’ imbuhnya.
Vicky mengakui, bukan perkara mudah membangun sebuah gereja dari nol.
Mereka harus menggalang semua dukungan, termasuk berkomunikasi dengan perusahaan untuk dukungan kayu.
Para prajurit Satgas Pamtas menggergaji sendiri balok balok kayu, membuatnya menjadi papan, tiang, maupun reng.
‘’Masyarakat mendukung dari sisi logistik makanan. Kami diberi hidangan yang enak enak seperti rica rica. Kalau prajurit sudah makan rica rica, semangat mereka kerja,’’ kata Vicky berkelakar.
Ia menuturkan, banyak masyarakat bercerita, selama ini, mereka harus menumpang ibadah ke gereja lain.
Sedangkan di Desa Sanur, terdapat sekitar 50 KK atau 190 warga Toraja.
Mereka memiliki ritual keagamaan khusus yang tak bisa dilakukan jika mereka terus menumpang ibadah di gereja lain.
Untuk itu, warga Toraja di SP 1 Tulin Onsoi, memilih beribadah dari rumah ke rumah, demi sempurnanya ritual keagamaan yang mereka yakini.
Toleransi di ujung negeri
Vicky menambahkan, pada prinsipnya, membangun sebuah gereja di sebuah Satuan Pemukiman di tapal batas, memberikan sebuah kepuasan batin tersendiri.
Di tapal batas negara ini, banyak pendatang dari suku, agama dan ras berbeda, sehingga kerukunan dan rasa persatuan harus selalu dipupuk supaya tumbuh menjadi keyakinan, sebagaimana semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’.
Selain menjaga toleransi beragama di batas negeri, para TNI juga menegaskan semboyan bahwa TNI berasal dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat.
Hal ini menjadi prinsip paling urgen dalam menjaga perbatasan dan kedaulatan bangsa.
‘’Jadi toleransinya kita jaga, kita dapatkan timbal balik hubungan sosial. Kita makin akrab dengan masyarakat, dan masyarakat tentu selalu menjadi mata dan telinga TNI jika terjadi indikasi pelanggaran di jalur jalur perbatasan,’’ kata Vicky lagi.
Dengan semangat demikian, prajurit seakan mendapat suntikan adrenalin untuk kerja lembur, dan ngebut untuk menyelesaikan pembangunan gereja.
‘’Pada akhirnya, kami semua mendapat pelajaran penting. Kami merasakan bagaimana mulianya sebuah tugas menjaga batas negara. Salam toleransi, semoga yang kami lakukan bisa menjadi kenangan dan pembelajaran juga untuk masyarakat perbatasan,’’ harap Vicky. (Dzulviqor).











