Menu

Mode Gelap
Saat Pekik Merdeka Diteriakkan Warga Perbatasan RI – Malaysia Sambil Menanam Padi di Tengah Jalan Berlumpur Tiga Unit Rumah Guru SD di Pedalaman Sembakung Terbakar, Damkar Minta Maaf Karena Lokasi Tak Terjangkau Saat MBG Dinikmati Sejumlah Siswa Siswi Anak TKI Malaysia di Pulau Sebatik Malaysia Naikkan Harga Tiket Kapal Imbas Kenaikan Harga Minyak Dunia, Kapal Nunukan – Tawau Segera Menyusul Naikkan Tarif DPRD Kaltara Usulkan Pembentukan Tim Penyelesaian Konflik Perkebunan Tingkat Provinsi Bahas Raperda Pengelolaan Sumber Daya Air di Sungai Kayan, Arming : Harus Mensejahterakan Masyarakat di Kawasan Sungai

Nunukan

Tradisi ‘Manre Sipulung’, Tradisi yang Mempersatukan Warga Perantau di Perbatasan RI – Malaysia Ketika Isra’ Mi’raj

badge-check


					Sajian menu dalam tradisi Manre Sipulung di momen Isra' Mi'raj di Sei Taiwan, Pulau Sebatik, Senin (27/1/2025). dok.Kahar. Perbesar

Sajian menu dalam tradisi Manre Sipulung di momen Isra' Mi'raj di Sei Taiwan, Pulau Sebatik, Senin (27/1/2025). dok.Kahar.

NUNUKAN, infoSTI – Sebuah acara kebersamaan dalam suasana religi di Masjid Al Khoir, di Sei Taiwan, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi pemandangan tak biasa.

Momen perayaan Isra’ Mi’raj yang digelar, menjadi unik karena adanya tradisi ‘Manre Sipulung’, sebuah tradisi Suku Bugis yang lestari di perbatasan RI – Malaysia.

‘’Manre Sipulung itu bahasa Bugis, yang artinya makan bersama. Tapi bukan sekedar makan bersama, itu sebuah persatuan dan kekompakan yang selama ini dipelihara di tapal batas negeri,’’ ujar pengurus Masjid Al Khoir, Kahar Onank, dihubungi, Selasa (28/1/2025).

Untuk ‘Manre Sipulung’ di acara Isra’ Mi’raj, masjid akan mengumumkan melalui pengeras suara agar masyarakat Desa Tanjung Karang, Sei Taiwan, Sebatik Induk, membawa makanan ke masjid.

Makanan yang dibawa, juga beraneka ragam dan jenis. Bagi mereka yang nelayan, pasti akan membawa makanan laut, ikan, udang, kepiting dan hasil lautnya.

Begitu juga yang pekebun, akan membawa sayuran, buah dan makanan olahan dari hasil kebunnya.

Sementara para petani, akan membawa nasi dan menyumbangkan tenaga untuk memastikan kebersihan masjid sebelum acara Isra’ Mi’raj digelar.

‘’Kita bisa melihat sendiri, saat masjid mengumumkan akan menggelar Isra’ Mi’raj, masyarakat berdatangan. Bukan hanya suku pendatang Bugis, ada yang lainnya, dan semua berbaur jadi satu. Itulah yang kita katakan, Manre Sipulung menjadi lambang persatuan dan kesatuan di perbatasan Negara,’’ kata dia.

Suasana peringatan Isra’ Mi’raj di Masjid Al Khoir, Sei Taiwan, Sebatik Induk,

Setelah masjid sudah bersih dan siap untuk Isra’ Mi’raj, hampir seluruh masyarakat berlomba membawa hasil masakan mereka ke masjid.

Ada ikan bakar, kepiting saus, sayur tumis, sayur santan, kue kue manis dan gurih, semua menjadi hidangan yang menggugah selera.

‘’Kami persilahkan bapak bapak TNI, Polisi untuk sama sama menikmati makanan. Tapi itu setelah kita dengar tausiyah, hikmah yang disampaikan Pak Ustadz. Intinya, bukan hanya Manre Sipulung saja, tapi dalam keseharian, kita praktekkan kekompakan seperti amalan Bhineka Tunggal Ika,’’ tegas Kahar.

Untuk diketahui, Pulau Sebatik, terbagi menjadi dua. Ada Sebatik yang dikuasai oleh Indonesia, ada juga Pulau Sebatik, yang masuk wilayah Malaysia.

Tradisi Manre Sipulung, memang baru sekitar 5 tahun berjalan di Desa Tanjung Karang, Sei Taiwan, Sebatik Induk.

Namun, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan, sehingga masyarakat Bugis yang mayoritas perantau, justru semangat untuk momen momen kebersamaan.

Baik itu Isra’ Mi’raj, atau saat perayaan Maulid Nabi Muhammad.

‘’Bisa dikatakan, Manre Sipulung ini merekatkan hubungan persaudaraan. Mendekatkan yang jauh, dan kian mempererat silaturahmi,’’ tutupnya.

Facebook Comments Box

Trending di Nunukan