Menu

Mode Gelap
Diminta Jualkan Motor, Seorang Residivis di Nunukan Malah Tilep Uang Nenek 61 Tahun Gaduh Narasi Wakil Bupati Nunukan Pecah Kongsi dan Mengamuk di Kantor Pemda, Begini Penjelasan Bupati Nunukan Muhammad Khoiruddin Resmi Nakhodai PERPANI Nunukan Periode 2026 – 2030 Nyaris Kolap Karena BLUD Dikorupsi, RSUD Nunukan Masih Miliki Utang Rp 16 Miliar Anggota DPRD Kaltara Temui Pertamina Tarakan, Pastikan Suplay BBM Untuk Perbatasan RI – Malaysia Lancar Jelang Idul Fitri 1447 H Hendak Kirim Paket Hemat Narkoba ke Nunukan, Pria Ini Digerebek Polisi di Dermaga Speed Boat Sebatik

Ekonomi

Jelang Nataru, Minat Beli Masyarakat Nunukan Rendah, Kenaikan Harga Pasar Hanya Terjadi Pada Komoditi Palawija

badge-check


					Kabid perdagangan Dior Frames, saat melakukan operasi pasar, Perbesar

Kabid perdagangan Dior Frames, saat melakukan operasi pasar,

NUNUKAN, infoSTI – Minat belanja masyarakat Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menjelang Natal dan Tahun Baru 2025, terbilang rendah.

Hal ini berimbas pada kondisi sejumlah pasar tradisional di Nunukan, yang mengeluhkan sepinya pembeli.

‘’Masyarakat kita sedang mengalami ekonomi yang lumayan sulit, sehingga berpengaruh pada daya beli mereka ke pasar,’’ ujar Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, Dior Frames, ditemui, Selasa (17/12/2024).

Menurunnya daya beli masyarakat Nunukan, kata Dior, mengakibatkan stok lama masih memenuhi pasar.

Dengan kualitas barang yang turun, penjual tentu memilih menurunkan harga, demi memancing minat pembeli.

Dari data operasi pasar yang dilakukan DKUKMPP Nunukan, kenaikan harga lebih banyak di komoditi palawija/bumbu dapur.

Itupun untuk palawija yang baru didatangkan dari luar Nunukan.

‘’Kita tahu kalau menjelang Nataru, banyak yang masak masak, sehingga bumbu dapur banyak mengalami kenaikan. Itupun untuk stok barang baru. Untuk barang lama, otomatis turun,’’ jelasnya.

Untuk harga cabai merah keriting, harga terpantau Rp 40.000/Kg. Cabai rawit merah Rp 50.000/Kg, dan Cabai Rawit Hijau, Rp 40.000/Kg.

‘’Kalau cabai rawit baru, masih di angka Rp 70.000 sampai Rp 75.000an perKg. Harga dibawah itu, adalah stok lama,’’ kata Dior lagi.

Lesunya ekonomi masyarakat juga terlihat dari pembelian beras.

Kalau biasanya pembeli akan membeli beras kemasan 15 Kg. saat ini, masyarakat lebih memilih membeli beras kemasan 5 Kg.

Mereka juga lebih memilih beras kualitas medium dengan harga Rp 13.800/Kg, ketimbang beras premium, yang dibanderol Rp 17.500/Kg.

Sedangkan untuk lauk pauk, seperti tahu tempe, penjual di pasar juga memilih mengurangi ukuran atau volume.

Tempe persegi panjang ukuran besar dijual dengan harga Rp 22.000, dan tahu putih dijual dengan harga Rp 15.000.

Untuk harga ayam, dan telur, terpantau masih stabil. Daging ayam, dijual dengan harga Rp 45.000 sampai Rp 48.000/Kg.

Sedangkan telur, dibanderol Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per rak, tidak ada kenaikan dari harga normal.

Begitu juga dengan harga daging sapi, yang dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp 120.000, Rp 140.000, hingga Rp 180.000, tergantung jenis dan bagian daging yang dibeli.

‘’Yang sejak inflasi belum pernah turun itu harga minyak goreng. Untuk yang kualitas premium masih dijual Rp 23.000 sampai Rp 25.000/Liter. Dan kita juga sudah kehabisan stok Minyakita. Kalaupun ada, itu sisa stok lama, dan harganya dijual sama dengan minyak kualitas medium, Rp 17.000/Liter,’’ kata Dior.

Kalau bicara potensi kenaikan harga, lanjutnya, tentu selalu ada, khususnya ketika stok barang dari Sulawesi yang diangkut Kapal laut datang.

‘’Tapi selama tidak ada oknum yang menimbun barang, stok barang kita untuk Nataru aman. Dan walaupun terjadi kenaikan, tidak terlalu signifikan, dan tidak di semua komoditi,’’ kata Dior.

Facebook Comments Box

Trending di Ekonomi