Menu

Mode Gelap
Bupati Nunukan Irwan Sabri, Apresiasi Penempatan PIMPASA di Empat Desa Rawan TPPO dan TPPM Dua Minggu Lebih Ditampung Dinas Sosial Nunukan, Orang Terlantar yang Mengaku ‘Sultan’ Akhirnya Meninggal Dunia Kolaborasi Pemda Nunukan dan BTNKM, Perkuat Sinergi Kelestarian Alam dan Pemberdayaan Masyarakat Perbatasan Hasil Reses DPRD Selalu Menjadi Prioritas Dalam Akselerasi Pembangunan Fisik dan SDM Sekda Nunukan Beri Penjelasan Rinci Turunnya Pendapatan Daerah Kepada Fraksi Gerindera Mekanisme Mutasi Pejabat Diprotes Fraksi Demokrat, Begini Penjelasan Pemkab Nunukan

Advertorial

Dua Minggu Lebih Ditampung Dinas Sosial Nunukan, Orang Terlantar yang Mengaku ‘Sultan’ Akhirnya Meninggal Dunia

badge-check


					Sejumlah Peksos Nunukan menggali kubur untuk memakamkan orang terlantar bernama 'Sultan'. Dok.DSP3A Nunukan. Perbesar

Sejumlah Peksos Nunukan menggali kubur untuk memakamkan orang terlantar bernama 'Sultan'. Dok.DSP3A Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan, Kalimantan Utara, mengunggah video sejumlah Peksos (Pekerja Sosial) sedang menggali kubur di TPU Nunukan Selatan.

Mereka terlihat sedih dan membicarakan nasib orang terlantar yang selama ini mengaku bernama Sultan yang sempat mereka urus dan rawat sejak awal September 2026, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kabid Rehabilitasi Sosial, DSP3A Nunukan, Yarius menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya laki laki terlantar yang masih belum ditemukan identitasnya tersebut.

‘’Kita sudah berusaha sebisa mungkin membantu. Kita terus mencari informasi keluarganya, sampai kita larikan ke RSUD karena kondisinya yang sangat lemah,’’ ujarnya, Senin (21/9/2026).

‘’Namun pada akhirnya, kita tidak bisa menghindari takdir. Beliau meninggal di RSUD Nunukan. Semoga beliau tenang disana,’’ ujarnya lagi.

Yarius menuturkan, para Pekerja Sosial Nunukan, pertama kali menjemput Sultan, pada 3 Agustus 2026. Saat itu, Sultan duduk seorang diri di alun alun Nunukan, dengan pandangan kosong dan tak jelas tujuannya.

Petugas mencoba menjalin komunikasi intens, namun jawaban yang diperoleh, lebih banyak yang tak nyambung dan melantur.

‘’Petugas kesulitan mendapat informasi mengenai identitas diri, asal daerah, tempat tinggal, dan keberadaan keluarga Sultan,’’ tutur Yarius.

Petugas sempat membujuk Sultan agar bersedia ikut petugas dan dtempatkan di shelter. Namun, Sultan menolak dan meminta untuk diantarkan ke rumahnya di sekitar Jalan Lingkar.

Petugaspun mengalah dan menuruti kemauan Sultan.

‘’Dia mengaku Sultan, entah memang betul itu namanya atau merasa dirinya Sultan. Karena dari ceritanya, dia punya sepuluh istri, sepuluh anak dan sepuluh rumah bertingkat,’’ kata Yarius.

Awal September 2026, Peksos kembali mendapatkan laporan keberadaan Sultan. Saat itu, petugas mendapati kondisinya terbaring dan sangat lemas.

Petugas sebisa mungkin menanyakan kondisi fisik Sultan, namun tak seperti pertemuan pertama yang langsung memberikan respon. Kali ini, Sultan hanya terdiam membisu dengan tatapan nanar.

Petugas kemudian membawanya ke shelter. Ia dimandikan, diberi pakaian layak dan makanan.

Setelah mulai pulih, Sultan dibawa ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk menelusuri asal muasal dan alamat keluarganya tinggal.

’’Meski dilakukan perekaman biometric, kami tetap belum diperoleh data kependudukan yang dapat mengonfirmasi identitas Sultan,’’ katanya lagi.

Dalam proses wawancara, Sultan sempat menjawab dengan bahasa Bugis. Namun alur respons cenderung tidak sesuai dengan pertanyaan.

Beberapa informasi, disampaikan dalam konteks bercanda. Sehingga sulit menentukan apakah informasi tersebut merupakan keterangan factual, atau sekadar respon spontan.

Iapun kembali dibawa ke shelter sebagai bentuk intervensi awal untuk memberikan perlindungan sementara, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pemantauan kondisi dan keberfungsian sosial PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial).

Sejak itu, kondisi kesehatan Sultan terus menurun. Sampai pada akhirnya, ia sudah tidak mampu makan sendiri. Iapun hanya bisa terbaring lemah tanpa mampu melakukan komunikasi verbal maupun isyarat.

‘’Kita larikan dia ke UGD RSUD Nunukan untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan medis sesuai kebutuhan pada 12 Semptember 2026,’’ lanjut Yarius.

Hampir sepekan dirawat di RSUD Nunukan, dokter menyatakan Sultan meninggal dunia.

‘’Sampai akhir hayatnya, upaya penelusuran kami untuk mencari keluarga Almarhum belum mendapat hasil. Kami hanya bisa membantu memakamkan Almarhum secara layak. Semoga amal ibadahnya diterima Yang Maha Kuasa,’’ tutup Yarius.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial