NUNUKAN, infoSTI – Kekurangan tenaga kesehatan di Perbatasan RI – Malaysia di Nunukan, Kalimantan Utara, wajib menjadi agenda utama untuk mengatasi kesenjangan dan hak warga negara untuk hidup sehat.
Ini dikatakan Jubir Fraksi Demokrat DPRD Nunukan, Gat Khaleb, saat membacakan pandangan fraksinya terhadap Raperda APBDP Nunukan 2026, Kamis (17/9/2026).
‘’Persoalan utama pelayanan kesehatan kita adalah kekurangan tenaga medis. Kami memahami bahwa ini merupakan persoalan klasik yang telah berlangsung selama lebih dari dua decade. Setiap kali masalah ini disampaikan, jawabannya hampir selalu sama. Sulit mendapatkan dokter umum, sulit mencari dokter spesialis, dan anggaran tidak tersedia,’’ ujar Gat.
Ia menegaskan, perlu menjadi catatan, bahwa pemerintah hadir untuk mencari solusi atas setiap persoalan. Pemerintah harus kreatif dan berani membuat terobosan.
Misalnya, menjalin kerja sama dengan rumah sakit besar yang memiliki banyak dokter, mendatangkan dokter spesialis secara berkala ke nunukan dan wilayah pedalaman, serta mengembangkan pelayanan dokter keliling dan telemedisin (teknologi medis).
‘’Kesulitan tidak boleh terus- menerus dijadikan alasan. Jika cara lama tidak berhasil, pemerintah harus mencari cara baru,’’ kata dia.
Ia melanjutkan, ketimpangan tenaga medis dan fasilitas kesehatan antarkawasan di Kabupaten Nunukan, masih sangat nyata.
Persoalan itu harus dicari akar masalahnya dan diselesaikan. Pemerintah dapat memberikan insentif khusus, TPP yang lebih besar, tempat tinggal yang layak, jaminan keamanan, fasilitas kerja yang memadai, serta kepastian pengembangan karier bagi tenaga kesehatan yang bersedia bertugas di wilayah pedalaman dan perbatasan.
Selain itu, jumlah tenaga kesehatan yang ditempatkan di wilayah pedalaman juga tidak terlalu banyak sehingga kebutuhan anggarannya seharusnya masih dapat dihitung dan diprioritaskan.
‘’Jangan biarkan kekurangan tenaga medis dan ketimpangan pelayanan menjadi persoalan abadi. Seolah-olah kita tidak memiliki jalan keluar,’’ pesan Gat.
‘’Selama ada kemauan, keberanian, dan kreativitas, selalu ada solusi. Kesehatan masyarakat tidak boleh ditentukan oleh tempat mereka dilahirkan dan tinggal. Mereka lahir dan tinggal di kampung-kampung atau di hutan oleh kehendak Tuhan, bukan karena mereka memilih,’’ tutup Gat Khaleb.










