NUNUKAN, infoSTI – Penampilannya cukup bersih dan rapi, namun saat diajak berbicara, ia akan terus bercerita masa masa dirinya bekerja sebagai buruh kelapa sawit di Malaysia.
Apapun pertanyaan yang diajukan, laki laki paruh baya tersebut, akan kembali mengulang celotehnya tentang kisah kelamnya bekerja sebagai eks TKI Malaysia.
Sesekali suaranya parau, matanya menatap kosong dan mengatakan dirinya masih terus menunggu gaji yang belum ia terima dari perusahaan perkebunan kelapa sawit, Malaysia.
Eks TKI tersebut, bernama Udin, asal Kota Bone, Sulawesi Selatan. Ia menjadi salah satu orang terlantar yang mendapat penanganan dan pendampingan dari para Peksos Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan, Kalimantan Utara.
‘’Dalam proses interaksi dan pendampingan, Pak Udin sering menceritakan tentang keluarganya. Beliau memiliki tiga orang anak. Dua diantaranya bekerja di Malaysia, sementara satu anak sedang menempuh pendidikan di Kota Bone,’’ ujar Kabid Rehsos DSP3A Nunukan, Yarius, Rabu (7/10/2026).
Selama berada di Nunukan, Udin menjalani hari-harinya dengan berbagai keterbatasan dalam mengingat informasi dan situasi di sekitarnya.
Namun, terdapat dua hal yang selalu diingat dan berulangkali disampaikannya kepada siapapun yang mengajaknya berbicara.
Yaitu tentang lahan sawit seluas kurang lebih 3 hektare dan gaji yang menurutnya masih belum diterima dari tempat ia bekerja.
‘’Hal tersebut menjadi bagian dari cerita yang terus dibawanya dalam setiap percakapan,’’ kata Yarius.
Bahkan ketika para Peksos menuturkan rencana kepulangannya ke Bone, Pak Udin kembali menanyakan dan membicarakan keberadaan lahan sawit, serta gajinya.
Bagi pekerja sosial, kata Yarius, kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam proses asesmen.
‘’Apa yang terus disampaikan oleh Pak Udin tidak serta-merta dipandang sebagai persoalan sederhana, tetapi menjadi informasi yang perlu dipahami dalam melihat kondisi sosial, psikologis, serta pengalaman hidup yang sedang beliau hadapi,’’ jelasnya.
Sebelum memulangkannya ke Bone, Tim berusaha menghubungi anak-anak Pak Udin yang berada di Malaysia. Namun, proses komunikasi dan penjajakan dukungan keluarga, menghadapi berbagai kendala.
Pihak keluarga menyampaikan sejumlah alasan dan belum menunjukkan kesiapan untuk menerima kembali Pak Udin.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, hubungan komunikasi dengan istrinya, juga sudah tidak berjalan dengan baik.
Sebagai pekerja sosial, lanjut Yarius, ia tentu tidak berada pada posisi untuk menilai siapa yang benar atau siapa yang salah dalam persoalan keluarga tersebut.
Ada bagian dari perjalanan hidup Pak Udin yang mungkin tidak sepenuhnya diketahui.
‘’Yang dapat dilakukan adalah memahami situasi, menghormati keputusan keluarga, serta memastikan hak dan kebutuhan Pak Udin tetap mendapatkan perhatian,’’ tegasnya.
Tak patah arang, tim kemudian membangun komunikasi dengan anak Pak Udin yang sedang menempuh pendidikan di Bone.
Komunikasi ini menjadi bagian penting untuk memastikan adanya pihak yang dapat menerima dan memberikan dukungan setelah Pak Udin tiba di daerah asalnya.
‘’Pemulangan bukan berarti berakhirnya kepedulian. Bagi pekerja sosial, pemulangan merupakan bagian dari proses reintegrasi sosial. Kita selalu berharap para PPKS dapat kembali berada di lingkungan asal dan memperoleh dukungan yang memungkinkan,’’ katanya lagi.
Bagi Yarius, kisah Pak Udin memberikan pelajaran bahwa dibalik seorang PPKS yang terlihat baik-baik saja, terdapat cerita hidup yang panjang, relasi keluarga yang kompleks, serta kebutuhan untuk didengarkan dan dipahami.
Mendampingi perjalanan Pak Udin ke Bone, menjadi bagian dari upaya Peksos Nunukan untuk memastikan seorang manusia dapat kembali ke daerah asalnya dengan aman, bermartabat, dan tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan dukungan sosial dari lingkungan terdekatnya.
Mungkin para Peksos tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan Pak Udin, termasuk tentang lahan dan gaji yang selalu ia ceritakan.
‘’Namun, kami berupaya memastikan satu hal, Pak Udin tidak boleh dibiarkan menghadapi perjalanan itu seorang diri,’’ tegasnya.











