Menu ✖

Mode Gelap
Kunjungan Wisman ke Nunukan Meningkat 14,82 Persen, BPS : Pemda Nunukan Harus Punya Inovasi Membuat Turis Betah Kabupaten Nunukan Alami Inflasi 0,59 Persen di September 2026, BPS Beri Lima Catatan Penting Said Hasan Dikukuhkan Sebagai Ketua PERTINA Kabupaten Nunukan Periode 2026 – 2030 Tiga Kali Dideportasi Malaysia, Eks PMI di Nunukan Nekat Mencuri Chainshaw Untuk Beli Tiket Pulang Kampung Sambut Kedatangan Menhan, Bupati Nunukan Sampaikan Enam Masalah Krusial di Perbatasan RI – Malaysia Dilaporkan Hilang, Saharuddin Akhirnya Ditemukan Tim SAR BPBD di Hari ke 7

Nunukan

Kunjungan Wisman ke Nunukan Meningkat 14,82 Persen, BPS : Pemda Nunukan Harus Punya Inovasi Membuat Turis Betah

badge-check


					Rilis BPS tentang kenaikan Wisman ke Nunukan. Sayangnya kenaikan Wisman belum dibarengi dengan lamanya mereka tinggal dan menginap. Dok.BPS Nunukan. Perbesar

Rilis BPS tentang kenaikan Wisman ke Nunukan. Sayangnya kenaikan Wisman belum dibarengi dengan lamanya mereka tinggal dan menginap. Dok.BPS Nunukan.

NUNUKAN, infoSTI –Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mencatat 1.418 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) pada Agustus 2026.

Jumlah ini, meningkat dibandingkan Juli 2026 yang tercatat sebanyak 1.235 kunjungan.

‘’Jumlah kunjungan Wisman ke Nunukan bertambah 183 kunjungan atau sekitar 14,82 persen secara bulanan,’’ ujar Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmaddien, melalui pesan tertulis, Minggu (4/10/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan ini memperlihatkan tingginya mobilitas lintas negara melalui Kabupaten Nunukan, sekaligus menunjukkan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari posisi strategis Nunukan sebagai wilayah perbatasan Indonesia –Malaysia.

Di sisi lain, lanjutnya, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel dan akomodasi lainnya pada Agustus 2026, tercatat sebesar 23,58 persen.

Artinya, secara sederhana sekitar 24 dari setiap 100 kamar yang tersedia terisi pada periode tersebut.

Sementara itu, Rata-Rata Lama Menginap Tamu (RLMT) tercatat 1,25 hari. Angka ini menunjukkan bahwa masa tinggal tamu di akomodasi Nunukan, masih relatif singkat.

‘’Perkembangan tersebut menghadirkan dua sisi yang menarik. Arus kunjungan wisman meningkat, tetapi tingkat hunian dan lama tinggal masih menyisakan ruang yang cukup besar untuk ditingkatkan,’’ kata Iskandar.

‘’Tantangannya, membuat orang tidak sekadar datang, tetapi tinggal lebih lama,’’ katanya lagi.

Sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Nunukan memiliki karakter pariwisata yang berbeda dengan banyak daerah lain di Indonesia.

Pergerakan orang, tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas wisata, tetapi juga dipengaruhi hubungan keluarga, perdagangan, pekerjaan, perjalanan lintas batas, dan berbagai kepentingan lainnya.

Karena itu, meningkatnya jumlah kunjungan melalui pintu keimigrasian merupakan potensi yang perlu diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang lebih luas di dalam daerah.

‘’Semakin lama seorang pengunjung berada di suatu daerah, semakin besar pula peluang terjadinya aktivitas ekonomi, mulai dari penggunaan hotel dan penginapan, konsumsi makanan dan minuman, transportasi lokal, perdagangan, jasa perjalanan, hingga pembelian produk UMKM,’’ urainya.

Pulau Sebatik dan Pariwisata Perbatasan Bisa Menjadi Kekuatan

Iskandar menjelaskan, posisi Nunukan sebagai beranda Indonesia di perbatasan merupakan karakter yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan tersendiri.

Pulau Sebatik, wisata alam, wisata bahari, kuliner lokal, budaya masyarakat perbatasan, produk UMKM hingga pengalaman berada di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia, dapat dikemas menjadi daya tarik yang lebih terintegrasi.

‘’Tantangannya adalah menghubungkan mobilitas orang yang sudah ada dengan produk wisata yang dapat dinikmati,’’ kata Iskandar.

Ia mencontohkan, pengunjung yang awalnya datang untuk urusan keluarga, pekerjaan atau aktivitas lintas batas, dapat memperoleh pilihan untuk menikmati kuliner, berbelanja produk lokal, mengunjungi destinasi, atau memperpanjang masa tinggal.

Dengan demikian, arus manusia yang melewati Nunukan dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian lokal.

Saran BPS

BPS Nunukan memberikan sejumlah catatan untuk penguatan sector wisata.

Pertama, diperlukan upaya untuk meningkatkan lama tinggal pengunjung. Dengan RLMT 1,25 hari, penyusunan paket perjalanan dua atau tiga hari yang menghubungkan Nunukan, Sebatik, wisata kuliner, wisata perbatasan dan destinasi lainnya dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan.

Kedua, konektivitas antardestinasi perlu terus diperkuat. Kemudahan transportasi, informasi perjalanan, kalender kegiatan, serta informasi destinasi akan menentukan kemudahan pengunjung menikmati Nunukan.

Ketiga, diperlukan penguatan event dan atraksi yang mempunyai daya tarik khas perbatasan. Agenda budaya, kuliner, olahraga, ekonomi kreatif maupun festival perbatasan dapat menjadi instrumen untuk mendorong kunjungan sekaligus memperpanjang masa tinggal.

Keempat, hotel, restoran, pelaku perjalanan dan UMKM perlu semakin terhubung dalam satu ekosistem. Peningkatan kunjungan akan memberikan dampak yang lebih besar apabila belanja pengunjung masuk dan berputar pada pelaku ekonomi lokal.

Kelima, promosi digital perlu diperkuat. Destinasi dan pengalaman wisata Nunukan harus semakin mudah ditemukan sebelum calon pengunjung tiba.

Informasi mengenai transportasi, hotel, kuliner, destinasi, agenda kegiatan dan produk lokal perlu tersedia secara sederhana dan mudah diakses.

“Kita mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah, yaitu posisi geografis sebagai wilayah perbatasan negara. Tantangannya adalah bagaimana mobilitas yang sudah tinggi dapat dikonversi menjadi aktivitas ekonomi lokal. Orang datang, tinggal lebih lama, makan di Nunukan, menggunakan jasa lokal, berbelanja produk UMKM dan mengunjungi destinasi kita. Di situlah data pariwisata dapat diterjemahkan menjadi peluang pembangunan ekonomi,” urainya.

Facebook Comments Box

Trending di Nunukan