Menu ✖

Mode Gelap
Sering Diusir Aparat Malaysia ‘Kami Hanya Mampu Terus Bertahan  Sambil Menunggu Pembayaran Ganti Untung dari Pemerintah RI’ Kunker ke Nunukan, Kanwil Ditjenpas Kaltimtara Yan Rusmanto Lakukan Penguatan Lapas Paras Festival di HUT Nunukan 27 Tahun, BPS Mencatat Kenaikan Omset Ekonomi Mencapai Rp 1,054 Miliar Sebanyak 12 SPPG 3T di Wilayah Tengah Indonesia Diresmikan, Harga Menu Sesuai HET dari Tim TPID Pemprov Kaltara Usulkan Sekolah Diberi Kesempatan Sebagai Penyedia Bahan Baku MBG Sebanyak 12 SPPG Wilayah Tengah Diresmikan, Dipusatkan di Pulau Sebatik

Advertorial

Fraksi Demokrat Sarankan Digitalisasi Laporan, Mengurangi Penggunaan Kertas dan Bolpoin

badge-check


					Jubir Fraksi Demokrat DPRD Nunukan, Gat Khaleb membcakan pandangan fraksi menanggapi Raperda APBDP Nunukan 2026. Kamis (17/9/2026). Perbesar

Jubir Fraksi Demokrat DPRD Nunukan, Gat Khaleb membcakan pandangan fraksi menanggapi Raperda APBDP Nunukan 2026. Kamis (17/9/2026).

NUNUKAN, infoSTI – Fraksi Partai Demokrat, DPRD Nunukan, meminta Pemkab Nunukan memiliki fokus dan konsen dalam pembangunan SDM di wilayah perbatasan negara.

Butuh adanya perubahan pola pandang dalam mengelola anggaran, serta mewujudkan pemerataan dan keadilan bagi masyarakat di seluruh wilayah kabupaten nunukan.

‘’Setiap program harus direncanakan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Pemerintah harus mampu menentukan secara tepat, mana yang menjadi prioritas, mana yang mendesak, mana yang benar-benar dibutuhkan, mana yang belum diperlukan, dan mana yang masih dapat ditunda,’’ ujar Jubir Fraksi Demokrat, Gat Khaleb saat membacakan pandangan Fraksi Demokrat, Kamis (17/9/2026).

Setiap kali rapat anggaran, lanjut Gat, pembahasan KUA-PPAS, kita masih terlalu sibuk membicarakan proyek fisik, tetapi sering alpa membahas arah dan sasaran pembangunan setiap tahun.

Apa targetnya? apakah arahnya sudah benar? apakah programnya sudah tepat? apakah benar-benar dibutuhkan masyarakat?. Artinya, pola  pikir  kita  belum  berubah.  kita  masih menganggap pembangunan hanya sebatas pembangunan fisik.

Menurut Gat, berbicara tentang efisiensi anggaran, hal yang cukup sederhana seharusnya lebih diperhatikan. Ia mencontohkan, belanja alat tulis kantor di setiap OPD masih besar. Padahal, sekitar 50–60 persen kegiatan administrasi, sudah  berbasis  elektronik.

‘’Tidak  hanya  di OPD, di kantor DPRD yang terhormat ini pun demikian. Dalam setiap rapat masih disediakan pulpen dan kertas. padahal, anggota DPRD tentu  mampu  membeli  satu  pulpen dan  satu  buku  catatan yang dapat digunakan selama tiga sampai lima bulan. kita juga masih mampu membeli sendiri sepatu dan pakaian olahraga,’’ lanjut Gat.

Ia tak mengatakan bahwa semua itu tidak penting. Namun, sesuatu yang penting, belum tentu benar-benar dibutuhkan dan harus disediakan oleh pemerintah.

Jika ditawari sesuatu secara gratis, tentu hampir semua orang akan menerimanya. Namun, apakah sesuatu itu benar-benar dibutuhkan? belum tentu.

dalam konteks masyarakat pun demikian. Jika ditanya apakah mereka   menginginkan   jalan,   gedung,   dan   berbagai   fasilitas lainnya,   hampir   seratus   persen   pasti   menjawab   mau.

Namun, apakah semuanya benar-benar dibutuhkan saat ini? apakah mendesak? apakah harus menjadi prioritas? belum tentu.

Di era yang serba digital ini, semua laporan harus berbasis digital, yang secara otomatis berimbas pada pengurangan pengadaan kertas di kantor kantor, dan memberi dampak lebih ramah lingkungan.

‘’Inilah contoh sederhana perubahan paradigma dalam mengelola anggaran. Bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Antara yang penting dan yang mendesak, serta antara yang harus segera dilaksanakan dan yang masih dapat ditunda,’’ jelasnya.

‘’Dengan cara itulah, anggaran pembangunan dapat  direncanakan dan didistribusikan secara tepat, adil, dan benar bagi seluruh masyarakat kabupaten nunukan,’’ tegas Gat Khaleb.

Facebook Comments Box

Trending di Advertorial