Menu

Mode Gelap
BKPSDM Nunukan Belum Putuskan Nasib Oknum PPPK yang Cabuli Balita Tiga Tahun dan Oknum Satpol PP Pecandu Narkoba PDAM Berlakukan Distribusi Air Bergilir, Penjual Air Keliling di Nunukan ‘Panen Cuan’ Hingga Jutaan Rupiah Bupati Nunukan Irwan Sabri Serahkan LKPD Tahun Anggaran 2025 ke BPK Cuaca Panas Terik di Nunukan Sebabkan Penyusutan Air di Embung, PDAM Berlakukan Distribusi Air Bergilir Coba Selundupkan Satu Keluarga Secara Ilegal ke Malaysia, Seorang IRT di Nunukan Diamankan Polisi Nunukan Mengalami Cuaca Terik Cukup Menyengat, BPBD Imbau Warga Tak Membuka Lahan Dengan Membakar

Kaltara

PDAM Berlakukan Distribusi Air Bergilir, Penjual Air Keliling di Nunukan ‘Panen Cuan’ Hingga Jutaan Rupiah

badge-check


					Mobil pikap penjual air bersih saat melayani pemesanan air. Dok.Suharman. Perbesar

Mobil pikap penjual air bersih saat melayani pemesanan air. Dok.Suharman.

NUNUKAN, infoSTI – Embung di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengalami penyusutan akibat cuaca panas yang terjadi sejak akhir Maret 2026.

Kondisi tersebut, membuat PDAM mengeluarkan kebijakan untuk distribusi air secara bergilir bagi konsumen.

Kondisi ini, justru menjadi berkah tersendiri bagi para penjual air bersih keliling di perbatasan RI – Malaysia ini.

Mereka mempromosikan air bersih di medsos, dengan mencantumkan nomor kontak dan siap untuk pengantaran.

Salah seorang penjual air bersih keliling, Arki Hardiansyah menuturkan, hasil penjualan lumayan besar, karena banyak masyarakat menelfonnya setelah membaca promosi di media social.

‘’Pengantaran sampai 17 kali, tergantung pemesan. Lumayan ramailah, apalagi persoalan embung kering memang menjadi masalah yang belum ada solusi setiap tahunnya,’’ ujarnya, dihubungi Rabu (1/4/2026).

Arki menjual air profil berkapasitas 1200 liter dengan harga Rp 100.000 untuk wilayah kota. Dalam sehari, ia bisa mendapat hampir Rp 2 juta.

‘’Memang lagi musimnya, jadi kita manfaatkan saja. Selama ada yang pesan, kita siap antar. Rp 100.000 untuk wilayah kota, Rp 150.000 untuk daerah yang agak jauh dari kota,’’ kata dia.

Penjual air keliling lain, Suharman juga mengakui, saat ini, tukang air sedang kebanjiran order.

Sejak beberapa hari terakhir, pemesanan bahkan mencapai 27 profil per hari.

Dengan profil 1.200 liter yang dibanderol dengan harga Rp 100.000, maka penghasilan Suharman mencapai Rp 2,7 juta per harinya.

‘’Alhamdulillah lumayan sekali hasilnya. Saya lama jual air dan punya pelanggan sendiri. Tahun kemarin bahkan bisa 37 profil sehari,’’ kata dia.

Penghasilan tersebut, belum dikurangi dengan harga beli di pemilik sumur bor, dan untuk membayar tenaga dua pekerjanya.

‘’Uang segitu belum bersih, harus bayar dua pekerja, masing masing Rp 10.000 per profil, dan dipotong untuk pembelian air bersih dari sumur bor dan BBM,’’ terang Suharman.

Kendati meraup untung dari kondisi kekeringan yang terjadi, Suharman mengaku tetap berharap hujan segera turun dan mengisi embung embung yang ada.

‘’Saya bersyukur, tapi tidak pernah berharap kemarau berkepanjangan. Tak boleh juga kita mengambil keuntungan dari musibah,’’ kata Suharman.

Sebelumnya diberitakan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengalami cuaca terik yang berimbas pada penyusutan embung.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan, Wiliam Sinaga menjelaskan, ada sejumlah faktor yang mengakibatkan ini.

Yang pertama, karena minimnya uap air di atmosfer yang menyebabkan kurangnya pembentukan awan.

Kedua, peningkatan kecepatan angin yang menjadi penghalang bagi awan-awan konvektif atau awan penyebab hujan untuk tumbuh.

Dan adanya fenomena posisi gerak semu harian matahari yang berada tepat di atas titik pengamat atau disebut kulminasi, turut berkontribusi terhadap peningkatan suhu udara yang menyebabkan cuaca terasa panas.

“Kondisi cuaca cerah ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga awal April 2026. Meskipun masih terdapat potensi hujan ringan,” ujar Wiliam.

Sementara itu, Direktur Perumda Tirta Taka Nunukan, Arpiansyah mengatakan, dua embung yang selama ini menjadi instalasi pengolahan air bersih andalan, masing-masing Embung Bolong dan Embung Sei Bilal, mengalami masalah kekurangan air baku.

Embung Bolong dengan kapasitas 450.000 m3, volume tersisa saat ini 90.000 m3. Ketinggian air saat ini 1 meter, estimasi debit normal maksimal 5 hari.

Sedangkan Embung Sei Bilal dengan kapasitas normal sekitar 85.680 m3, saat ini tersisa 69.000 m3 dengan ketinggian air 3 meter, dan estimasi debit normal, maksimal 14 hari.

Arpiansyah mengimbau masyarakat bisa menggunakan air dengan bijak. Ia juga meminta maaf kepada masyarakat atas pelayanan yang kurang maksimal.

‘’Saat ini, yang bisa dilakukan hanya menunggu hujan turun karena Kabupaten Nunukan memang tidak memiliki sumber air baku. Semoga Allah mencurahkan hujan yang penuh rahmat dan barokah,” harap Arpiansyah.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara