Menu

Mode Gelap
Malaysia Naikkan Harga Tiket Kapal Imbas Kenaikan Harga Minyak Dunia, Kapal Nunukan – Tawau Segera Menyusul Naikkan Tarif DPRD Kaltara Usulkan Pembentukan Tim Penyelesaian Konflik Perkebunan Tingkat Provinsi Bahas Raperda Pengelolaan Sumber Daya Air di Sungai Kayan, Arming : Harus Mensejahterakan Masyarakat di Kawasan Sungai Banjir Tahunan di Perbatasan RI – Malaysia, DPRD Kaltara Desak Penanganan Komprehensif Lapas Nunukan Usulkan Remisi Hari Raya Idul Fitri Bagi 885 Warga Binaan Pemasyarakatan Arus Mudik Penumpang Kapal Pada Lebaran 2026 di Perbatasan RI – Malaysia Turun 20 Persen

Kaltara

Curhatan Warga Pedalaman Nunukan, Selalu Berkemas Untuk Mengungsi Tengah Malam Setiap Banjir Kiriman Malaysia Datang

badge-check


					Banjir di wilayah Desa Kalunsayan, Tulin Onsoi, Perbesar

Banjir di wilayah Desa Kalunsayan, Tulin Onsoi,

NUNUKAN, infoSTI – Banjir tahunan yang ditengarai sebagai banjir kiriman Malaysia, kembali melanda wilayah pedalaman di Perbatasan RI – Malaysia, di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Wilayah Kecamatan Sembakung hingga Kecamatan Tulin Onsoi,  menjadi daerah paling terdampak parah, dan paling lama surut.

Hal ini menjadi sebuah keresahan dan keluhan masyarakat setiap banjir melanda.

Wakil Kepala Adat Besar Tulin Onsoi, Sibrianus Sati, menuturkan, banjir kiriman, paling sering datang di tengah malam, ketika masyarakat tertidur lelap.

‘’Dan kami harus berkemas di tengah malam. Masyarakat khususnya Desa Kalunsayan, Tulin Onsoi, akan mengungsi ke Desa Salang, atau Desa Tembalang,’’ ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (27/5/2025).

Di wilayah Tulin Onsoi, masyarakat masih banyak yang tinggal di bantaran sungai, lantaran dulunya, sungai menjadi lokasi kehidupan mereka.

Dulu, tutur Sati, tahun 1990an, hutan di wilayah tersebut masih asri dan lestari, sehingga meski banjir kiriman Malaysia sampai ke Tulin Onsoi, hanya sungai yang debit airnya meningkat.

Saat itu, pemukiman penduduk juga tidak sebanyak saat ini, dan jumlah warga yang selalu mengungsi saat banjir tidak seramai sekarang.

‘’Sekarang, banjir tahunan bukan datang sekali dua kali. Setahun bahkan bisa empat kali,’’ keluhnya.

Sati berharap, kondisi mereka menjadi perhatian khusus Pemerintah, setidaknya untuk menyediakan perahu karet. Untuk mengevakuasi warga yang terlambat mengungsi, juga antisipasi jatuhnya korban yang seharusnya bisa dicegah.

‘’Jadi ketinggian banjir seakan bertambah setiap tahun. Ada yang naik sampai jendela. Karena datangnya banjir tak bisa ditebak, kami hanya minta perhatian pemerintah,’’ tegasnya.

Untuk diketahui, banjir di pedalaman pelosok Nunukan, berasal berasal dari aliran sungai yang berada di wilayah perbatasan Malaysia, seperti: Sungai Talangkai (Sepulut, Sabah), Sungai Pampangon, Sungai Lagongon, Sungai Pagalungan, masuk ke Indonesia melalui Sungai Labang, Sungai Pensiangan, berlanjut ke Sungai Sembakung.

Facebook Comments Box

Trending di Kaltara