Menu ✖

Mode Gelap
Sebanyak 15 Legislator PKS se-Kaltara Ikuti Bimteknas, Pertajam Kepekaan Demi Pelayanan Optimal Kepada Rakyat  Angka Kemiskinan Kabupaten Nunukan Turun 0,04 Persen di Tahun 2026 Seluas Tiga Hektar Lahan Sawit di Desa Butas Bagu Pedalaman Nunukan Terbakar di Tengah Malam Nyaris Hangus Terbakar, Kebakaran Gedung LVRI Nunukan Berhasil Dipadamkan   Siapkan Atlet Unggulan, PBFI Nunukan Yakin Mendulang Emas di Porprov Kaltara 2026 Sawah Seluas 3 Hektar Milik Warga Pedalaman Lumbis Terbakar, BPBD Nunukan Imbau Masyarakat Tak Buka Lahan dengan Membakar

Nunukan

Tradisi ‘Manre Sipulung’, Tradisi yang Mempersatukan Warga Perantau di Perbatasan RI – Malaysia Ketika Isra’ Mi’raj

badge-check


					Sajian menu dalam tradisi Manre Sipulung di momen Isra' Mi'raj di Sei Taiwan, Pulau Sebatik, Senin (27/1/2025). dok.Kahar. Perbesar

Sajian menu dalam tradisi Manre Sipulung di momen Isra' Mi'raj di Sei Taiwan, Pulau Sebatik, Senin (27/1/2025). dok.Kahar.

NUNUKAN, infoSTI – Sebuah acara kebersamaan dalam suasana religi di Masjid Al Khoir, di Sei Taiwan, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi pemandangan tak biasa.

Momen perayaan Isra’ Mi’raj yang digelar, menjadi unik karena adanya tradisi ‘Manre Sipulung’, sebuah tradisi Suku Bugis yang lestari di perbatasan RI – Malaysia.

‘’Manre Sipulung itu bahasa Bugis, yang artinya makan bersama. Tapi bukan sekedar makan bersama, itu sebuah persatuan dan kekompakan yang selama ini dipelihara di tapal batas negeri,’’ ujar pengurus Masjid Al Khoir, Kahar Onank, dihubungi, Selasa (28/1/2025).

Untuk ‘Manre Sipulung’ di acara Isra’ Mi’raj, masjid akan mengumumkan melalui pengeras suara agar masyarakat Desa Tanjung Karang, Sei Taiwan, Sebatik Induk, membawa makanan ke masjid.

Makanan yang dibawa, juga beraneka ragam dan jenis. Bagi mereka yang nelayan, pasti akan membawa makanan laut, ikan, udang, kepiting dan hasil lautnya.

Begitu juga yang pekebun, akan membawa sayuran, buah dan makanan olahan dari hasil kebunnya.

Sementara para petani, akan membawa nasi dan menyumbangkan tenaga untuk memastikan kebersihan masjid sebelum acara Isra’ Mi’raj digelar.

‘’Kita bisa melihat sendiri, saat masjid mengumumkan akan menggelar Isra’ Mi’raj, masyarakat berdatangan. Bukan hanya suku pendatang Bugis, ada yang lainnya, dan semua berbaur jadi satu. Itulah yang kita katakan, Manre Sipulung menjadi lambang persatuan dan kesatuan di perbatasan Negara,’’ kata dia.

Suasana peringatan Isra’ Mi’raj di Masjid Al Khoir, Sei Taiwan, Sebatik Induk,

Setelah masjid sudah bersih dan siap untuk Isra’ Mi’raj, hampir seluruh masyarakat berlomba membawa hasil masakan mereka ke masjid.

Ada ikan bakar, kepiting saus, sayur tumis, sayur santan, kue kue manis dan gurih, semua menjadi hidangan yang menggugah selera.

‘’Kami persilahkan bapak bapak TNI, Polisi untuk sama sama menikmati makanan. Tapi itu setelah kita dengar tausiyah, hikmah yang disampaikan Pak Ustadz. Intinya, bukan hanya Manre Sipulung saja, tapi dalam keseharian, kita praktekkan kekompakan seperti amalan Bhineka Tunggal Ika,’’ tegas Kahar.

Untuk diketahui, Pulau Sebatik, terbagi menjadi dua. Ada Sebatik yang dikuasai oleh Indonesia, ada juga Pulau Sebatik, yang masuk wilayah Malaysia.

Tradisi Manre Sipulung, memang baru sekitar 5 tahun berjalan di Desa Tanjung Karang, Sei Taiwan, Sebatik Induk.

Namun, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan, sehingga masyarakat Bugis yang mayoritas perantau, justru semangat untuk momen momen kebersamaan.

Baik itu Isra’ Mi’raj, atau saat perayaan Maulid Nabi Muhammad.

‘’Bisa dikatakan, Manre Sipulung ini merekatkan hubungan persaudaraan. Mendekatkan yang jauh, dan kian mempererat silaturahmi,’’ tutupnya.

Facebook Comments Box

Trending di Nunukan