NUNUKAN, infoSTI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), merilis peringatan dini potensi bencana hidrometeorologi ganda, Selasa (20/10/2026).
Untuk diketahui, Bencana hidrometeorologi ganda, adalah kondisi ketika suatu wilayah menghadapi dua ancaman cuaca atau iklim ekstrem secara bersamaan atau berurutan dalam waktu dekat, seperti ancaman kekeringan dan kebakaran hutan (karhutla) bersamaan dengan potensi banjir bandang serta tanah longsor.
Berdasarkan data BMKG, Indonesia saat ini berada dalam kondisi iklim ekstrem akibat kombinasi fenomena El Niño sangat kuat (indeks ENSO +3,08) dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif (indeks +0,703).
Kondisi ini memicu cuaca yang jauh lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia.
Namun di sisi lain, wilayah Kalimantan kini mulai memasuki masa peralihan (pancaroba) yang ditandai dengan potensi hujan intensitas sedang hingga lebat akibat aktivitas gelombang atmosfer Kelvin.
Menyikapi ancaman ganda tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nunukan, Asmar, menegaskan bahwa jajarannya langsung meningkatkan status kesiapsiagaan di seluruh wilayah Kabupaten Nunukan.
Menurutnya, Kabupaten Nunukan memiliki karakteristik wilayah yang unik, di mana kita harus menghadapi dua potensi risiko bencana sekaligus dalam waktu bersamaan.
‘’Di satu sisi, kita harus tetap mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat dampak El Niño yang masih kuat. Di sisi lain, peningkatan curah hujan di wilayah Kalimantan belakangan ini menuntut kita bersiaga penuh terhadap ancaman banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, terutama di kawasan hulu sungai dan perbukitan,” ujarnya, melalui pesan tertulis.
BPBD Nunukan saat ini tengah melakukan penajaman analisis risiko bencana secara terperinci dengan mengacu pada Kajian Risiko Bencana (KRB) daerah.
Sebagai langkah konkret di lapangan, fokus utama pengawasan ditingkatkan pada beberapa kecamatan yang menjadi langganan banjir, guna memastikan penanganan dapat berjalan cepat dan taktis.
Ia menguraikan, BPBD Nunukan telah menyusun skema penguatan kesiapsiagaan yang melibatkan seluruh elemen, antara lain :
- Pengawasan Wilayah Langganan Banjir : Memberikan perhatian ekstra dan memperketat pemantauan di beberapa kecamatan rawan yang menjadi langganan banjir tahunan saat curah hujan meningkat.
- Pemantauan Real-Time : Meningkatkan intensitas pemantauan sebaran titik panas (hotspot) serta perkembangan debit air sungai di wilayah rawan secara berkala.
- Kesiapan Personel dan Logistik : Menginventarisasi kembali kesiapan personel, peralatan evakuasi seperti perahu karet, tenda darurat, serta logistik kebencanaan agar siap digerakkan sewaktu-waktu.
- Aktivasi Sistem Peringatan Dini : Memastikan jejaring komunikasi peringatan dini (early warning system) hingga ke tingkat kecamatan dan desa berjalan dengan baik.
- Edukasi Masyarakat: Menggencarkan diseminasi informasi cuaca ekstrem dari BMKG kepada masyarakat luas melalui media sosial dan kanal komunikasi warga agar masyarakat tidak gagap saat terjadi perubahan cuaca mendadak.
BPBD Nunukan juga mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dan wilayah lereng perbukitan, untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra selama masa peralihan cuaca ini.
“Kami meminta masyarakat untuk aktif melaporkan setiap potensi ancaman bencana di lingkungan masing-masing. Koordinasi dan partisipasi aktif warga adalah kunci utama kita dalam meminimalkan dampak risiko bencana di Kabupaten Nunukan,” kata Asmar.











