NUNUKAN, infoSTI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Nunukan, Kalimantan Utara, terus memperkuat program pembinaan keterampilan seni membatik bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kalapas Nunukan, Donny Setiawan menegaskan, batik Lapas Nunukan mulai dikenal luas masyarakat, dan menjelma menjadi salah satu oleh oleh bagi para tamu yang berkunjung ke Nunukan.
‘’Potensi ekonominya lumayan tinggi dan cukup diminati. Beberapa instansi di Nunukan juga sering pesan untuk oleh oleh,’’ ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Menurut Donny, batik bukan sekedar bicara tentang ekonomi, batik memiliki filosofi khusus yang melambangkan nilai kehidupan, doa, dan harapan luhur yang tertuang dalam setiap corak dan goresan.
Dengan melihat unsur tersebut, batik menjadi oleh oleh unik dan estetik. Setiap motif batik tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat dengan makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai budaya, spiritual, dan sosial masyarakat setempat.
‘’Untuk itu, kami mencoba terus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dikembangkan sebagai bekal setelah menyelesaikan masa pidana. Salah satu yang sedang kita galakkan adalah seni membatik,’’ kata Donny lagi.
Ia menambahkan, membatik memerlukan ketelitian, kesabaran, dan kreativitas yang tinggi. Kegiatan ini, memiliki banyak sekali manfaat dan dampak positif yang berguna bagi WBP.
Mereka akan menjadi manusia yang lebih kreatif dan inovatif. Bahkan dalam menentukan motif batik, mereka diarahkan untuk dapat berpikir kritis untuk merancang pola dan komposisi warna sehingga memiliki motif yang cantik dan warna yang selaras.
Lebih dari itu, pembelajaran seni juga membantu WBP dalam mengembangkan keterampilan social dan kemandirian.
‘’Saya percaya, seni membatik mampu menjadikan WBP individu yang lebih percaya diri, berani berekspresi, dan mampu menghadapi tantangan dengan cara yang inovatif. Dan ini penting untuk bekal mereka ketika kembali ke kehidupan social saat bebas nanti,’’ kata Donny.











