NUNUKAN, infoSTI – Pekerja Sosial, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Nunukan, Kalimantan Utara, kembali memakamkan seorang Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), Senin (12/10/2026).
‘’Kemarin kita menguburkan seorang PPKS bernama Ridwan, dia menjadi PPKS ke enam yang meninggal di Tahun 2026,’’ ujar Kasi Rehsos DSP3A Nunukan, Yarius, dihubungi Selasa (13/10/2026).
Yarius menuturkan, Ridwan telah mendapatkan penampungan dan pendampingan di Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) DSP3A Kabupaten Nunukan sejak Juli 2026.
Perjalanan hidup Ridwan, menyimpan kisah tentang persoalan sosial dan keluarga.
Dari data DSP3A Nunukan, Tahun 2024, Ridwan pernah dipulangkan ke Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Selatan, untuk tinggal bersama ayah kandungnya.
Namun, sekitar enam bulan setelah pemulangan tersebut, ia kembali ke Kabupaten Nunukan dengan alasan tidak cocok tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya.
Yarius melanjutkan, Ridwan, tercatat memiliki KTP Kabupaten Tana Tidung (KTT). Selama berada di Nunukan, ia menjalani kehidupan di jalanan dengan meminta-minta kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
‘’Ia kerap terlihat di pinggir jalan, mengharapkan belas kasih orang lain, bahkan sesekali memasuki kafe untuk meminta bantuan kepada para pengunjung,’’ tutur Yarius.
Pada Juli 2026, Ridwan mendapatkan penanganan dan penampungan di RPTC DSP3A Kabupaten Nunukan dalam kondisi mengalami luka bakar yang hampir meliputi seluruh tubuhnya.
Tak ada yang tahu pasti penyebab Ridwan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Kendati demikian, Tim Rehabilitasi Sosial (Rehsos) DSP3A Kabupaten Nunukan berupaya memberikan pendampingan, melakukan perawatan luka, serta memantau kondisinya selama berada dalam penanganan.
Berbagai upaya dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan sosial kepada mereka yang membutuhkan perlindungan.
‘’Namun, pada 12 Oktober 2026, Ridwan dinyatakan meninggal dunia,’’ kata Yarius.
Peksos kembali bahu membahu mengurus jenazah, menggali kubur, hingga melakukan pemakaman layak bagi Ridwan.
Yarius menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada pihak RSUD Nunukan, khususnya petugas ruang jenazah, yang turut memberikan bantuan dan dukungan hingga proses pemakaman almarhum terlaksana.
Bagi para Peksos seperti dirinya, pelayanan sosial bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga tentang kepedulian dan kemanusiaan.
Memastikan setiap orang yang membutuhkan tetap mendapatkan perhatian, perlindungan, dan perlakuan yang manusiawi, hingga akhir hayatnya.
‘’Semoga almarhum Ridwan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, diampuni segala khilafnya, dan diterima segala amal ibadahnya,’’ kata Yarius.









