NUNUKAN, infoSTI – Senam khas Nunukan, Kalimantan Utara, ‘Lukiwol’, meraih Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia), dengan jumlah peserta terbanyak.
Untuk diketahui, Senam Lukiwol, adalah senam kreasi khas Kabupaten Nunukan yang menggabungkan gerakan senam aerobik dengan tarian tradisional Suku Tidung.
Senam Lukiwol, ditampilkan oleh 11.020 peserta di Ruang Terbuka Hijau (RTP) Paras Perbatasan Nunukan, Minggu (11/10/2026), disaksikan Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri.
Bupati Nunukan, Irwan Sabri mengatakan, Senam Lukiwol, bukan sekadar aktivitas olahraga.
‘’Ini menjadi momentum bersejarah untuk memperkenalkan dan mengangkat budaya asli Kabupaten Nunukan ke pentas nasional melalui MURI,’’ ujarnya, Senin (12/10/2026).
Irwan menjelaskan, Lukiwol, bukan sekadar senam, melainkan identitas masyarakat Nunukan yang mengandung cerita, filosofi, dan nilai budaya Suku Tidung yang diangkat dari legenda, Iluk Yaki Bentawol.
Setiap gerakannya menggambarkan berbagai aktivitas dalam kehidupan Yaki Bentawol. Mulai dari mengarungi sungai, menebang pohon, berburu, hingga kegembiraan sang istri ketika Yaki Bentawol pulang membawa hasil buruan.
Setiap gerakan, memiliki filosofi dan menjadi bagian dari cara untuk menceritakan kembali kisah Yaki Bentawol melalui seni gerak.
“Saat banyak daerah berlomba mengimpor budaya luar, hari ini kita di perbatasan justru menunjukkan kepada Indonesia, bahwa kita punya karya budaya asli yang sehat, kreatif, dan membanggakan. Kita bawa karya orisinil ini ke pentas nasional melalui MURI,” imbuhnya.

Bupati Nunukan, Irwan Sabri saat mendapat piagam rekor MURI untuk peserta terbanyak Senam LUKIWOL. Dok.Prokopim Nunukan.
Lebih jauh, ada tiga hal yang ingin ia sampaikan pada pemecahan rekor MURI ini. Yaitu, kesehatan masyarakat, pelestarian budaya, dan promosi wisata perbatasan.
Untuk kesehatan masyarakat, Irwan berharap Senam Lukiwol dapat menjadi senam wajib di sekolah, kantor, puskesmas, dan setiap Jumat pagi.
‘’Pada usia Kabupaten Nunukan ke-27 tahun, tidak ada kado yang lebih berharga selain rakyat yang sehat dan bugar,’’ kata dia.
Untuk pelestarian budaya, Irwan juga berharap Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Nunukan, segera mengurus hak paten Senam Lukiwol, agar dapat dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Untuk promosi budaya, Kabupaten Nunukan telah mengundang peserta dari Negeri Jiran, Malaysia, Brunai Darusalam, dan Filipina. Mereka hadir ke Nunukan untuk ikut meramaikan IRAW Tidung Borneo.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi, sekaligus menjaga kedekatan masyarakat lintas batas yang memiliki ikatan budaya.
“Kepada seluruh peserta, mulai anak sekolah, ibu-ibu PKK, ASN, TNI-Polri, pelajar, komunitas senam, yang hari ini datang dengan kostum seragam dan semangat yang luar biasa, anda semua adalah pemecah rekor, anda semua adalah pahlawan budaya,” kata Irwan Sabri.
Melalui promosi wisata perbatasan, Irwan berharap nama Paras Perbatasan dan Senam Lukiwol, semakin dikenal di tingkat nasional dan menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat dari berbagai daerah.
Irwan juga menjelaskan bahwa RTP Paras Perbatasan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kabupaten Nunukan.
“Dulu tempat ini (RTP) kosong, hari ini menjadi ruang publik kebanggaan. Dari Paras Perbatasan, kita ingin menyampaikan pesan kepada negara tetangga dan kepada seluruh Indonesia, ‘dari perbatasan, kita jaga budaya, kita jaga kesehatan, kita torehkan prestasi’,” tegasnya.









