NUNUKAN, infoSTI – Kapolda Kalimantan Utara (Kaltara) Irjen Pol.Djati Wiyoto Abadhy berdiri diatas jembatan Kampung Loudres, Desa Sungai Limau RT. 14, Sebatik Tengah, Nunukan, Kaltara, Sabtu (14/3/2026).
Bersama sejumlah murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon, ia mengabadikan momen ketika anak anak TKI Malaysia tersebut tersenyum cerah dan menyalaminya, sebagai ucapan terima kasih kepada polisi karena telah membantu membangun jembatan menuju sekolahnya yang ambruk akibat terjangan banjir pada Rabu (5/11/2025) lalu.
Murid Kelas VI MI Darul Furqon, Resky dan Riski mengaku sangat bersyukur dengan jembatan yang baru dibangun tersebut.
‘’Kami tak perlu lagi cari cari jalan yang bisa dilewati menuju ke sekolah saat hujan. Terima kasih sangat buat Bapak Kapolda,’’ ucap bocah kembar tersebut.
Kedua bocah tersebut, tinggal di Kampung 900, Sabah, Malaysia.
Semenjak jembatan selesai dibangun, keduanya tak perlu lagi bersedih karena sekolah sering diliburkan saat hujan.
‘’Kalau hujan pasti libur. Guru kami rasa khawatir bilamana kami terpeleset dan jatuh ke sungai. Tapi sekarang jembatan bagus sudah, bersyukur sangat kami,’’ kata keduanya dengan senyum sumringah.
Untuk diketahui, berita ambruknya jembatan Kampung Loudress menjadi viral di akhir 2025 lalu.
Selain menjadi akses jalan bagi anak anak TKI Malaysia untuk menuju madrasah, jembatan tersebut juga menjadi jalur bagi masyarakat setempat mengeluarkan kernel kelapa sawit dari kebun kebun mereka.
Video dan foto yang viral, memperlihatkan sejumlah anak sekolah madrasah dengan baju putih hijau dan kerudung, duduk jongkok tepat di pinggir jembatan yang ambruk ketika berangkat sekolah.
Pandangan mereka nanar, dan hanya terdiam terpaku melihat bekas puing puing jembatan hanyut oleh banjir.
Sekolahpun terpaksa diliburkan sampai ada jalur sementara menuju sekolah.
‘’Pemberitaan ambruknya jembatan ini didengar langsung Bapak Presiden. Beliau menonton banyak tayangan video di palform media massa dan memerintahkan langsung jajaran Polda Kaltara membantu kesulitan masyarakat perbatasan tersebut,’’ ujar Djati Wiyoto Abadhy.
Jembatan tersebut, akhirnya dibangun kembali oleh Satuan Brimob Kompi 2 Batalyon B Pelopor, Polda Kaltara, dimulai pada Selasa (2/12/2025) lalu.
Dengan semangat gotong royong, masyarakat sekitar ikut bergabung dalam aksi Tim Perbaikan Jembatan Kompi 2 Batalyon B Pelopor.
‘’Pembangunan jembatan ini merupakan wujud nyata pengabdian Polisi dalam mendukung pendidikan serta menjamin keselamatan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah perbatasan,’’ ujarnya lagi.
Selain itu, Polisi juga menginginkan roda perekonomian masyarakat di tapal batas terus berjalan, dengan memberikan akses lebih mudah.
‘’Saya memberikan apresiasi atas dedikasi dan kepedulian Satuan Brimob yang telah menunjukkan pengabdian nyata kepada masyarakat,’’ katanya.
Djati, memberi nama jembatan tersebut ‘Jembatan Merah Putih Presisi’.
Ia menjelaskan, nama merah putih yang identik dengan nasionalisme, dimaksudkan untuk mengokohkan jiwa patriotisme warga perbatasan.
Merah Putih juga menjadi simbol persatuan, dimana jembatan dibangun oleh sinergytas polisi bersama masyarakat.
Sementara Presisi adalah bentuk pelayanan dan pengabdian polisi serta rasa tanggung jawab Korps Bhayangkara, sebagai pengayom masyarakat.
‘’Pesan saya, tolong jaga, tolong rawat dan pelihara layaknya milik sendiri. Semoga jembatan ini bisa memiliki ketahanan jangka panjang dan mendukung proses pendidikan maupun keberlangsungan ekonomi masyarakat perbatasan negara,’’ pesannya.

Kapolda Kaltara Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy bersama dua tokoh masyarakat Sebatik, Haji Momo dan Haji Rustam dalam peresmian Jembatan Merah Putih Presisi, Sabtu (14/3/2026).
Diberitakan, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, menghadapi kondisi yang semakin memprihatinkan setelah jembatan satu-satunya yang menghubungkan sekolah tersebut ambruk akibat banjir pada Rabu (5/11/2025) malam.
Sebagai solusi sementara, aparat keamanan di Pulau Sebatik bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat, membangun jembatan darurat untuk mengalihkan akses menuju sekolah.
Jembatan darurat ini menembus area perkebunan, namun tetap menghadapi tantangan besar akibat kontur tanah yang berlumpur, terutama di musim penghujan.
“Kami harus menggulung celana demi melewati jalanan becek berlumpur menuju sekolah. Tapi inilah sebuah perjuangan dan pengabdian seorang guru di perbatasan,” ungkap Kepala MI Darul Furqon, Adnan Lolo, saat dihubungi.
Para siswa biasa berangkat ke sekolah di pagi buta, namun dengan kondisi jalan yang sulit dilalui, banyak dari mereka yang memilih absen dan membantu orang tua mereka bekerja di kebun kelapa sawit.
“Jalannya memang licin dan banyak anak-anak jatuh. Banyak orangtua murid mengeluh dan bertanya sampai kapan jalanan itu dilewati. Apakah jembatan tidak akan dibangun sehingga selamanya lewat jalanan jelek,” keluh Adnan.
MI Darul Furqon hanya memiliki 48 murid, di mana 90 persen dari mereka adalah anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia.
Mendapatkan murid untuk MI Darul Furqon bukanlah perkara mudah bagi Adnan.
Setiap tahun ajaran baru, ia harus masuk ke kamp-kamp kelapa sawit di Malaysia untuk merayu orang tua agar menyekolahkan anak mereka di MI yang dipimpinnya, meskipun dengan segala kekurangan yang ada.
“Sejak jembatan ambruk, setiap hari saya mendapat pesan dari orang tua murid yang mengeluh dan berniat memindahkan anaknya ke sekolah lain,” tutur Adnan.











